Menambah serta memperkaya pengalaman konser bagi angkatan termuda itu adalah tujuan utama penyelenggaraan konser intern psm unpad. Tahun ini konser intern ke 4 kembali menyuguhkan berbagai komposisi dari eropa, asia serta indonesia dengan zaman musik yang berbeda-beda dalam konser bertajuk Rainbow Rhapsody .
Cecep Nandang membuka konser tadi malam dengan Le Baylere. Suguhan apik berbahasa perancis ini bercerita tentang kerinduan akan keindahan masa lalu dan menginginkan keindahan itu kembali. Dinamika menjadi kunci keberhasilan dalam membawakan lagu ini dan tim intern malam tadi berhasil membawakannya dengan baik. Lagu kedua, suasana berubah ketika Fair Phylis I saw dinyanyikan dengan riang, megah serta harmonis. Babak ini dilanjutkan dengan Beati Quorum via, Tantum Ergo dan Der Tanz.
Sesi satu-babak dua dilanjutkan dengan International Song. Babak ini dipimpin oleh Florens Girsang. Kokode menjadi lagu pembuka babak ini, dilanjutkan dengan sebuah lagu berbahasa Spanyol Boleras Sevillanas, dan Tutira Mai sebuah folksong New Zealand. Pada lagu berikutnya, penyanyi di-spreading posisi bernyanyinya sehingga memberi tantangan tersendiri karena disamping kiri dan kanan bukan penyanyi yang bersuara sama sehingga membutuhkan ketelitian, konsertrasi serta kematangan dalam penguasaan lagu. Rosas Pandan, lagu dari Filipina dan Dorven Dalai, lagu rakyat Mongolia berhasil disajikan dengan baik serta membawa penonton kepuncaknya sesi satu ini.
Setelah intermezzo selama 15 menit, sesi dua babak popular dibuka dengan lagu Autun Leaves. Kenar Pradipto, angkatan 2005 memimpin 50 penyanyi dalam babak ini yang sebagian besar adalah angkatan 2008. Teknik yang berbeda di dalam bernyanyi lagu-lagu Popular menambah wawasan penyanyi dalam proses pembelajaran menjadi lebih profesional . Viva La Mama yang riang dan unik menjadi lagu kedua dan mampu membuat penonton turut bergoyang mengikuti beat-beat pada lagu tersebut. Babak ini di iringi oleh band untuk mengiringi lagu Bendera-Cokelat, Close To You dan Kumpul Bocah.
Sesuatu yang spesial dipersembahkan bagi penonton dalam konser tadi malam. Setelah babak popular usai, The 99′ers and A Friend, sebuah vocal en samble yang terdiri dari angkatan tahun 1999 PSM Unpad menampilkan beberapa pilihan lagu yang indah. Grup ini lebih familiar dengan 99′ers merupakan wujud kecintaan yang begitu besar kepada PSM Unpad.Karena dengan berbagai kesibukan dan rutinitas sehari hari, mereka masih bisa memberikan sesuatu bagi PSM Unpad serta almamater tercinta. Penampilan mereka tadi malam juga sebagai tanda 10 tahun perjalanan panjang mereka bersama dalam PSM Unpad.
Babak akhir tak kalah hebohnya. Penyanyi yang diawalnya memakai long dress warna hitam serta kemeja hitam bagi penyanyi pria, di babak ini mereka mengenakan pakaian adat timor Indonesia. Kekayaan serta keunikan budaya timor diangkat dalam babak ini. Babak ini dipimpin oleh Irene Hakh, angkatan 2004. Tubuhnya yang kecil memakai baju adat Papua dengan riasan khas suku pedalaman, menuntaskan konser malam ini menjadi konser yang besar. Gunung Salahutu yang bercerita tentang keindahan kota Ambon menjadi lagu pembuka. Dilanjutkan dengan Flobamora lagu dari Nusa Tenggara dan To Mepare-lagu dari Tana Toraja. Gerakan serta tarian menambah keindahan serta kemegahan babak Folksong ini. Huhate, dan Yamko Rambe Yamko menjadi sajian pamungkas. Standing Applause dari penonton ketika lagu Yamke Rambe Yamko selesai dibawakan dengan shout “heei yamko rambe HEEEY”.
Sebuah konser dengan rangkaian lagu-lagu yang indah serta kaya warna telah disajikan. Dengan persiapan kurang dari 4 bulan, dua angkatan termuda PSM Unpad berhasil membuktikan bahwa dengan latian yang sungguh-sungguh serta team work yang solid mereka mampu mempersembahkan sebuah konser yang bisa dibilang sukses. Antusias penonton dengan sold outnya tiket juga menjadi bukti bahwa mereka juga mau belajar serta bekerja sama dalam keorganisasian selain belajar bernyanyi di PSM Unpad. Beberapa kesalahan baik dari teknis menyanyi maupun penyelenggaraan konser menjadi pelajaran tersendiri bagi panitia dan penyanyi agar mampu menjadi lebih baik dimasa datangnya.
Setelah encore I Believe I Can Fly, konser ditutup dengan menyanyikan Hymne Universitas Padjadjaran penuh hikmad oleh penyanyi, serta penonton yang sebagian besar adalah keluarga Universitas Padjadjaran.
Komentar Terakhir